Thursday, 2 May 2019

Ramadhan Kariim


Ramadhan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q.S. al Baqarah [2]:183)

M

ungkin ayat di atas adalah ayat yang sering kita dengar ketika kita akan memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan di mana banyak orang berlomba-lomba untuk beribadah karena di bulan ini ganjaran kebaikan dilipatgandakan, ampunan dilimpahkan, dan banyak keuntungan yang bisa didapat jika kita bekerja keras dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Beberapa ibadah mungkin langsung terbersit dibenak ketika kata Ramadhan disebutkan. Shaum, tarawih, tadarus al Qur’an, sahur mungkin adalah ibadah yang langsung terbersit dipikiran kita semua. Beberapa orang memiliki strategi supaya bisa menghabiskan bulan Ramadhan semaksimal mungkin. Ada orang yang memiliki target khatam membaca al Qur’an selama Ramadhan, tarawih tidak pernah bolong, shaum selalu finish sampai maghrib, juga tidak lupa di sepuluh malam terakhir ada potensi untuk kita mendapatkan keistimewaan malam Laylatul Qadr dengan cara beri’tikaf.

Bulan Ramadhan adalah bulan turunnya al Qur’an. Turunnya al Qur’an di bulan Ramadhan tidaklah menjadi sebuah perdebatan, tetapi yang menjadi perdebatan adalah kapan tanggal pastinya turun al Qur’an tersebut. Banyak sekali orang yang memperdebatkan. Mulai dari orang yang menganggap turunnya al Qur’an ini pada tanggal 17 Ramadhan, ada pula yang menyebutkan pada tanggal 27. Tetapi nabi Saw. hanya mengisyaratkan bahwa malam Laylatul Qadr (yang di mana mala tersebut adalah malam turunnya al Qur’an) berada di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, maka logis jika kita mengatakan bahwa tanggal 27 bisa menjadi tanggal yang kemungkinan besar adalah waktu ketika al Qur’an diturunkan.

Sebenarnya ada hikmahnya ketika malam Laylatul Qadr tidak disebutkan secara pasti kapan waktunya, yaitu supaya kita tidak beribadah di waktu pasti turunnya saja (semisal tanggal 23 saja), tetapi kita juga beribadah di hari-hari lainnya, dengan begitu potensi kita mendapat pahala yang bagus menjadi lebih besar.

Bulan ini juga sering dikatakan sebagai bulan pendidikan. Kita tahu bahwa ibadah shaum wajib itu dilakukan pada bulan Ramadhan. Dan sebagaimana ayat yang telah tersebut di atas, esensi dari shaum wajib ini adalah supaya menjadikan kita orang-orang yang melakukan taqwa.

Sadari di sini bahwa kita pada bulan Ramadhan ini dididik supaya melakukan taqwa, belum dididik menjadi orang yang bertaqwa dalam arti istiqomah dalam bertaqwa. Lalu bagaimana supaya kita bisa termasuk orang-orang yang istiqomah dalam bertaqwa?

Pendidikan wajib yang kita enyam selama 12 tahun tentunya memiliki tujuan. Terlepas dari tujuan pemerintah, pastinya kita memiliki tujuan ideal masing-masing kenapa kita mengikuti pendidikan tersebut. Kebanyakan orang mungkin ingin ilmunya selama 12 tahun tersebut dapat diaplikasikan langsung pada pekerjaan atau kehidupan sehari-hari. Mungkin itu alasan kenapa kebanyakan orang membenci matematika karena memang matematika beberapa subjeknya (mungkin hampir semua subjek) tidak kita temukan di kehidupan sehari-hari.

Jika kita katakan bulan Ramadhan sebagai bulan pendidikan, lalu kita ibaratkan pendidikan tersebut sama halnya dengan pendidikan wajib yang kita enyam, tentunya kita ingin pendidikan di bulan Ramadhan bisa diaplikasikan di bulan-bulan lainnya. Kalau tidak ya berarti kita menganggap subjek yang kita pelajari di bulan Ramadhan itu tidak berguna seperti halnya matematika.

Jadi ketika kita telah melalui bulan Ramadhan, kita belum termasuk orang-orang yang istiqomah dalam bertaqwa. Tetapi jika kita mengaplikasikan pendidikan di bulan Ramadhan pada bulan-bulan lainnya, dalam arti melakukan ibadah sama intensnya ketika dibulan Ramadhan bahkan ditingkatkan, in syaa Allah kita bisa termasuk ke dalam golongan orang-orang yang isqiqomah dalam bertaqwa. Semoga kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan, dan dapat memaksimalkan ibadah bulan tersebut.

Aamiin.

Wallahu a’lam bishowwab

Iman

Saya melihat video ttg seorang astrofisikawan bernama Neil de Grasse Tyson ttg kepercayaannya terhadap Tuhan. Dia mengatakan bahwa semakin dia mengeksplorasi alam semesta, semakin berkurang keyakinannya bahwa ada sesuatu yg berkuasa yg kita sebut sebagai Tuhan.

Kemudian dia berkata bahwa jika kita menganggap Tuhan itu Maha Kuasa, Tuhan itu baik, kenapa kita melihat bahwa ada bencana di sana- sini, gunung meletus, badai, tornado, gempa bumi, penyakit-penyakit. Dia melihat bahwa daftar bencana tersebut itu mengerikan. Neil hanya bertanya, “Bagaimana kau (org yang beriman) berurusan dengan itu?”. Yg secara implisit dia mengatakan bahwa bagaimana kau percaya Tuhan mu yg mengatur segala urusan di bumi, tetapi kau banyak melihat bencana yg sangat mengerikan.

Neil menambahkan bahwa jika gambaran kita terhadap Tuhan adalah seseorang dengan janggut, dia tidak masalah. Dia hanya menginginkan bukti bahwa seseorang itu ada. Kemudian dia menambahkan bahwa itulah kenapa agama disebut sebagai kepercayaan (faith), di mana kau percaya sesuatu tanpa adanya bukti.



Di sini saya hanya ingin mengatakan bahwa saya rasa inilah semua masalah dari orang-orang yg tidak percaya Tuhan, mereka menginginkan sebuah bukti wujud dari Tuhan. Bahkan di zaman nabi Musa as. ini semua pernah terjadi, ketika sekelompok orang dari Bani Israil ingin melihat wujud Tuhan, padahal mereka telah diberi apa yg mereka minta dari Tuhan melalui Musa as., tetapi tetap saja mereka ingin melihat Tuhan. Kemudian mereka disambar (atau mungkin diperlihatkan petir, tidak sampai disambar) kemudian mereka hampir mati. Yg saya tangkap dari kejadian ini bahwa orang-orang tersebut melihat petir saja hampir mati (karena tak kuasa untuk menahannya) apalagi melihat Tuhan yg pastinya lebih agung daripada petir, secara umum lebih agung daripada apapun. Saya tidak bermaksud menyamakan Tuhan dengan ciptaan_Nya, makanya saya tadi bilang bahwa Tuhan lebih agung daripada apapun.

Yg menarik dari perkataan Neil adalah ttg faith (kepercayaan). Dia mengatakan bahwa faith adalah ‘believe in something in the absence of evidence’ (percaya pada sesuatu tanpa adanya bukti). Paham saya di sini bahwa Neil memang tidak mau percaya Tuhan kecuali jika dia melihat wujudnya. Ya kalau memang sudah terlihat wujudnya itu bukan percaya/faith. Justru yg kita tanya atau bahkan tuntut pada setiap orang adalah kepercayaanya pada Tuhan yg wujudnya tidak terlihat (bukan tidak ada) dengan menanyakan “apakah Anda percaya Tuhan?” Kalau jawabannya tidak percaya karena tidak ada wujudnya, jawaban tersebut menjadi tidak relevan, karena seperti yg Neil katakan bahwa kepercayaan/faith adalah percaya sesuatu TANPA ADANYA BUKTI.

Seperti kisah Fir’aun, dia ditenggelamkan bersama pasukannya di Laut Merah. Kemudian di akhir hayatnya, di saat dia mengalami sakaratul maut dia mengatakan bahwa dia percaya/beriman pada Tuhannya Musa dan Harun. Tetapi kenapa Tuhan tidak menerima imannya? Karena pada saat sakaratul maut, kita akan diperlihatkan tempat kita nanti di akhirat kelak (surga atau neraka). Ketika kita sudah diperlihatkan hal yg seharusnya kita Imani, maka mengatakan bahwa “Aku percaya/beriman” adalah sudah terlambat, karena kita seharusnya mengatakan bahwa kita percaya sebelum kita diperlihatkan bukti pada apa-apa yg kita percayai.

Saya ingin tutup artikel kali ini dengan sebuah potongan dialog singkat antara Ahmed Deedat dan seorang atheis (note:dialog ini belum tentu dialog yg sebenarnya antara Ahmed Deedat dan atheis).

Seorang atheis bertanya kepada Ahmed Deedat,

“Bagaimana perasaanmu ketika kau meninggal dan menemukan bahwa alam akhirat itu adalah kebohongan?’”

Ahmed Deedat menjawab,

“Tidak buruk daripada ketika kau meninggal dan menemukan bahwa alam akhirat itu nyata.”

Wallohu a’lam bishowwab.

Ramadhan Kariim

Ramadhan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون...