Thursday, 2 May 2019


Iman

Saya melihat video ttg seorang astrofisikawan bernama Neil de Grasse Tyson ttg kepercayaannya terhadap Tuhan. Dia mengatakan bahwa semakin dia mengeksplorasi alam semesta, semakin berkurang keyakinannya bahwa ada sesuatu yg berkuasa yg kita sebut sebagai Tuhan.

Kemudian dia berkata bahwa jika kita menganggap Tuhan itu Maha Kuasa, Tuhan itu baik, kenapa kita melihat bahwa ada bencana di sana- sini, gunung meletus, badai, tornado, gempa bumi, penyakit-penyakit. Dia melihat bahwa daftar bencana tersebut itu mengerikan. Neil hanya bertanya, “Bagaimana kau (org yang beriman) berurusan dengan itu?”. Yg secara implisit dia mengatakan bahwa bagaimana kau percaya Tuhan mu yg mengatur segala urusan di bumi, tetapi kau banyak melihat bencana yg sangat mengerikan.

Neil menambahkan bahwa jika gambaran kita terhadap Tuhan adalah seseorang dengan janggut, dia tidak masalah. Dia hanya menginginkan bukti bahwa seseorang itu ada. Kemudian dia menambahkan bahwa itulah kenapa agama disebut sebagai kepercayaan (faith), di mana kau percaya sesuatu tanpa adanya bukti.



Di sini saya hanya ingin mengatakan bahwa saya rasa inilah semua masalah dari orang-orang yg tidak percaya Tuhan, mereka menginginkan sebuah bukti wujud dari Tuhan. Bahkan di zaman nabi Musa as. ini semua pernah terjadi, ketika sekelompok orang dari Bani Israil ingin melihat wujud Tuhan, padahal mereka telah diberi apa yg mereka minta dari Tuhan melalui Musa as., tetapi tetap saja mereka ingin melihat Tuhan. Kemudian mereka disambar (atau mungkin diperlihatkan petir, tidak sampai disambar) kemudian mereka hampir mati. Yg saya tangkap dari kejadian ini bahwa orang-orang tersebut melihat petir saja hampir mati (karena tak kuasa untuk menahannya) apalagi melihat Tuhan yg pastinya lebih agung daripada petir, secara umum lebih agung daripada apapun. Saya tidak bermaksud menyamakan Tuhan dengan ciptaan_Nya, makanya saya tadi bilang bahwa Tuhan lebih agung daripada apapun.

Yg menarik dari perkataan Neil adalah ttg faith (kepercayaan). Dia mengatakan bahwa faith adalah ‘believe in something in the absence of evidence’ (percaya pada sesuatu tanpa adanya bukti). Paham saya di sini bahwa Neil memang tidak mau percaya Tuhan kecuali jika dia melihat wujudnya. Ya kalau memang sudah terlihat wujudnya itu bukan percaya/faith. Justru yg kita tanya atau bahkan tuntut pada setiap orang adalah kepercayaanya pada Tuhan yg wujudnya tidak terlihat (bukan tidak ada) dengan menanyakan “apakah Anda percaya Tuhan?” Kalau jawabannya tidak percaya karena tidak ada wujudnya, jawaban tersebut menjadi tidak relevan, karena seperti yg Neil katakan bahwa kepercayaan/faith adalah percaya sesuatu TANPA ADANYA BUKTI.

Seperti kisah Fir’aun, dia ditenggelamkan bersama pasukannya di Laut Merah. Kemudian di akhir hayatnya, di saat dia mengalami sakaratul maut dia mengatakan bahwa dia percaya/beriman pada Tuhannya Musa dan Harun. Tetapi kenapa Tuhan tidak menerima imannya? Karena pada saat sakaratul maut, kita akan diperlihatkan tempat kita nanti di akhirat kelak (surga atau neraka). Ketika kita sudah diperlihatkan hal yg seharusnya kita Imani, maka mengatakan bahwa “Aku percaya/beriman” adalah sudah terlambat, karena kita seharusnya mengatakan bahwa kita percaya sebelum kita diperlihatkan bukti pada apa-apa yg kita percayai.

Saya ingin tutup artikel kali ini dengan sebuah potongan dialog singkat antara Ahmed Deedat dan seorang atheis (note:dialog ini belum tentu dialog yg sebenarnya antara Ahmed Deedat dan atheis).

Seorang atheis bertanya kepada Ahmed Deedat,

“Bagaimana perasaanmu ketika kau meninggal dan menemukan bahwa alam akhirat itu adalah kebohongan?’”

Ahmed Deedat menjawab,

“Tidak buruk daripada ketika kau meninggal dan menemukan bahwa alam akhirat itu nyata.”

Wallohu a’lam bishowwab.

No comments:

Post a Comment

Ramadhan Kariim

Ramadhan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون...