Iman
Saya
melihat video ttg seorang astrofisikawan bernama Neil de Grasse Tyson ttg
kepercayaannya terhadap Tuhan. Dia mengatakan bahwa semakin dia mengeksplorasi
alam semesta, semakin berkurang keyakinannya bahwa ada sesuatu yg berkuasa yg
kita sebut sebagai Tuhan.
Kemudian
dia berkata bahwa jika kita menganggap Tuhan itu Maha Kuasa, Tuhan itu baik,
kenapa kita melihat bahwa ada bencana di sana- sini, gunung meletus, badai,
tornado, gempa bumi, penyakit-penyakit. Dia melihat bahwa daftar bencana tersebut
itu mengerikan. Neil hanya bertanya, “Bagaimana kau (org yang beriman)
berurusan dengan itu?”. Yg secara implisit dia mengatakan bahwa bagaimana kau
percaya Tuhan mu yg mengatur segala urusan di bumi, tetapi kau banyak melihat
bencana yg sangat mengerikan.
Neil
menambahkan bahwa jika gambaran kita terhadap Tuhan adalah seseorang dengan
janggut, dia tidak masalah. Dia hanya menginginkan bukti bahwa seseorang itu
ada. Kemudian dia menambahkan bahwa itulah kenapa agama disebut sebagai
kepercayaan (faith), di mana kau percaya sesuatu tanpa adanya bukti.
Di sini
saya hanya ingin mengatakan bahwa saya rasa inilah semua masalah dari
orang-orang yg tidak percaya Tuhan, mereka menginginkan sebuah bukti wujud dari
Tuhan. Bahkan di zaman nabi Musa as. ini semua pernah terjadi, ketika
sekelompok orang dari Bani Israil ingin melihat wujud Tuhan, padahal mereka
telah diberi apa yg mereka minta dari Tuhan melalui Musa as., tetapi tetap saja
mereka ingin melihat Tuhan. Kemudian mereka disambar (atau mungkin
diperlihatkan petir, tidak sampai disambar) kemudian mereka hampir mati. Yg
saya tangkap dari kejadian ini bahwa orang-orang tersebut melihat petir saja
hampir mati (karena tak kuasa untuk menahannya) apalagi melihat Tuhan yg
pastinya lebih agung daripada petir, secara umum lebih agung daripada apapun.
Saya tidak bermaksud menyamakan Tuhan dengan ciptaan_Nya, makanya saya tadi
bilang bahwa Tuhan lebih agung daripada apapun.
Yg
menarik dari perkataan Neil adalah ttg faith (kepercayaan). Dia mengatakan
bahwa faith adalah ‘believe in something in the absence of evidence’
(percaya pada sesuatu tanpa adanya bukti). Paham saya di sini bahwa Neil memang
tidak mau percaya Tuhan kecuali jika dia melihat wujudnya. Ya kalau memang
sudah terlihat wujudnya itu bukan percaya/faith. Justru yg kita tanya atau
bahkan tuntut pada setiap orang adalah kepercayaanya pada Tuhan yg wujudnya
tidak terlihat (bukan tidak ada) dengan menanyakan “apakah Anda percaya Tuhan?”
Kalau jawabannya tidak percaya karena tidak ada wujudnya, jawaban tersebut
menjadi tidak relevan, karena seperti yg Neil katakan bahwa kepercayaan/faith
adalah percaya sesuatu TANPA ADANYA BUKTI.
Seperti
kisah Fir’aun, dia ditenggelamkan bersama pasukannya di Laut Merah. Kemudian di
akhir hayatnya, di saat dia mengalami sakaratul maut dia mengatakan bahwa dia percaya/beriman
pada Tuhannya Musa dan Harun. Tetapi kenapa Tuhan tidak menerima imannya?
Karena pada saat sakaratul maut, kita akan diperlihatkan tempat kita nanti di
akhirat kelak (surga atau neraka). Ketika kita sudah diperlihatkan hal yg
seharusnya kita Imani, maka mengatakan bahwa “Aku percaya/beriman” adalah
sudah terlambat, karena kita seharusnya mengatakan bahwa kita percaya sebelum
kita diperlihatkan bukti pada apa-apa yg kita percayai.
Saya ingin
tutup artikel kali ini dengan sebuah potongan dialog singkat antara Ahmed
Deedat dan seorang atheis (note:dialog ini belum tentu dialog yg sebenarnya antara
Ahmed Deedat dan atheis).
Seorang
atheis bertanya kepada Ahmed Deedat,
“Bagaimana
perasaanmu ketika kau meninggal dan menemukan bahwa alam akhirat itu adalah kebohongan?’”
Ahmed
Deedat menjawab,
“Tidak
buruk daripada ketika kau meninggal dan menemukan bahwa alam akhirat itu nyata.”
Wallohu
a’lam bishowwab.
No comments:
Post a Comment